Skip to content

Kuliah Umum Dr. Baker: SBY Masih Berpeluang Besar

Juli 11, 2007

DI TANAH air, banyak orang meragukan kemampuan Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia; mempertanyakan klaim pemerintah bahwa jumlah penduduk miskin dan pengangguran berkurang dalam setahun terakhir, atau mempertanyakan sikap politik pemerintah di panggung internasional, bahkan meragukan perang melawan korupsi dan menggugatnya sebagai tebang pilih.

Richard Baker on Indonesian's SBY

Di Hawaii, pengamat keindonesiaan dari East West Center, Richard Baker menilai betapapun miring kritik dialamatkan kepadanya, namun sampai kini SBY masih merupakan tokoh nomor satu di republik ini.

Baker yang menjadi pembicara tunggal dalam seminar bertajuk “President Yudhoyono at Mid Term” Selasa petang waktu setempat (10/7) atau Rabu siang waktu Indonesia (11/7), mengatakan dirinya yakin dalam Pilpres 2009 mendatang SBY akan kembali terpilih memimpin Indonesia sampai 2014. Tidak ada satu orang pun yang kini disebut-sebut akan menjadi penantang SBY lebih baik dari putra kelahiran Pacitan, Jawa Timur itu.

Dalam 2,5 tahun pertama berkuasa, SBY dinilai telah melakukan sejumlah hal luar biasa yang tak mudah dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Apalagi hal itu terjadi di saat berbagai bencana alam datang silih berganti. Mulai tsunami di Aceh akhir 2004, gempa bumi di Nias 2005, aktifitas volkanik Gunung Merapi 2006, gempa Jogjakarta 2006, hingga yang terakhir letusan Gunung Gamkonora di Maluku Utara pekan ini.

Belum lagi kecelakaan transportasi, khususnya transportasi udara, sampai-sampai negara-negara Uni Eropa mem-black list maskapai-maskapai Indonesia. “Publik tidak mengatakan bahwa semua hal ini adalah kesalahan SBY. Yang dipertanyakan publik adalah bagaimana pemerintahan SBY merespon semua kejadian itu,” kata Baker.

Sebelum menjadi presiden, masih menurut Baker, SBY hampir-hampir tak punya track record yang menonjol. Seperti Senator Barrack Obama, salah seorang bakal calon presiden AS dari Partai Demokrat saat ini, SBY hanya bermodalkan wajah baru. Dan ketidakpuasan masyarakat pada pemimpin sebelumnya lah yang menjadi faktor utama pendorong kemenangan SBY dalam Pilpres 2004.

Baker yang pernah bertugas di Departemen Luar Negeri AS mencatat dua prestasi penting pemerintahan SBY. Pertama, perdamaian di Aceh, mulai dari perjanjian Helsinki sampai pemilihan kepala daerah yang menempatkan bekas petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Irwandi Yusuf sebagai gubernur Aceh. Hal kedua adalah perang melawan korupsi. Sejauh ini, sambunya, ada beberapa kepala daerah, mulai dari gubernur hingga bupati dan walikota, serta anggota parlemen daerah yang tengah menjalani proses pengadilan kasus korupsi. Bahkan ada menteri yang dicopot karena terindikasi melakukan tindakan korupsi.

“Masih banyak orang yang berpikir, walaupun tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, namun SBY adalah orang yang baik. Dan masyarakat Indonesia kelihatannya lebih senang memilih yang tidak begitu buruk (selama tidak ada calon lain yang lebih baik),” demikian Baker.

Tugas berat pemerintah saat ini, menurut dia, adalah mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen agar jumlah penduduk miskin dan pengangguran benar-benar dapat dikurangi secara signifikan. Dan untuk itu, Baker mengutip Wapres Jusuf Kalla, Indonesia membutuhkan dana segar dalam jumpa besar, Rp 1.000 triliun. Baker percaya, trend yang tampak sampai hari ini lambat laun akan mengembalikan kepercayaan investor untuk kembali menanamkan modal di Indonesia, baik dalam proyek-proyek swasta maupun pemerintah.

Dalam seminar yang digelar oleh Pacific and Asia Affairs Council (PAAC) itu, juga dibahas tentang terorisme di Indonesia dan gerakan separatisme. Baker menilai bahwa pemerintah Indonesia telah mengambil tindakan yang tepat dengan menjalin kerjasama dengan berbagai negara, seperti AS dan Australia. Penangkapan Abu Dujana beberapa waktu lalu, sebutnya, memperlihatkan indikasi keseriusan sikap pemerintah itu terhadap terorisme.

Selain itu, Baker juga percaya selama 62 merdeka, perasaan nasionalisme tertanam kuat di hati orang Indonesia. “Rakyat dan pemain ekonomi menyadari bahwa NKRI adalah jalan terbaik.”

Bagaimana dengan Timor Timur yang lepas di tahun 1999 lalu? Kata Baker, sejak awal, Timtim tidak termasuk dalam wilayah Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia modern yang digagas puluhan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Kehilangan Timtim memang menyakitkan, tapi Indonesia tidak merasa kehilangan jiwa. (Teguh Santosa, first published in Rakyat Merdeka)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: