Skip to content

Malam Bersama Barquentine Paling Tangguh di Dunia

September 24, 2007

DARI luar pagar Nimitz Gate, pintu gerbang utama Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, saya bisa menyaksikan Yudhistira, Arjuna dan Bima berdiri tegak menantang langit yang semakin gelap. Ketiganya seakan mendongakkan kepala, menatap tajam ke arah bintang-bintang dan sayatan bulan yang mulai memperlihatkan diri di ujung senja. Hari itu, Selasa, 18 September 2007.Tubuh Dewaruci, penyangga tiga dari lima pahlawan Pandawa, memang tak terlalu besar dengan panjang 58,3 meter dan lebar lambung 9,5 meter. Arjuna yang berdiri di tengah menggenapi 35,87 meter ketinggian Dewaruci. Tetapi ia adalah petarung paling tangguh di kelasnya. Dua saudaranya yang hidup terpisah sejak akhir Perang Dunia Kedua sudah lama pensiun mengarungi samudera. Kabarnya satu telah ditenggelamkan, dan satu lainnya dijadikan sasaran tembak dalam latihan perang.

Ke-16 layar Dewaruci yang bila dibentangkan melebar 1.091 meter persegi telah tergulung dengan rapi. Lampu-lampu kecil yang dikaitkan pada tali yang menghubungkan ujung kapal, ketiga pahlawan Pandawa hingga buritan mulai dinyalakan. Dari kejauhan beberapa Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) yang menyertai perjalanan kapal latih TNI AL ini dalam Pelayaran Muhibah Kartika Jala Krida (KJK) 2007 sedang menata meja di mulut tangga yang menghubungkan dermaga dan Dewaruci.

Saya dan beberapa mahasiwa Indonesia serta anggota masyarakat Indonesia masih menunggu di pelataran parkir di luar Pass and ID Office Naval Base. Tiga orang sersan TNI AL yang menemani kami sedari tadi terus berkordinasi dengan pihak Pearl Harbor agar kami yang diundang bisa memasuki areal Naval Base dan bergabung dengan kemeriahan yang akan berlangsung malam itu di Dewaruci.

Ketika waktu berbuka puasa tiba, kami masing-masing mengeluarkan bekal. Seorang teman menyodorkan biskuit, saya membawa apel, dan salah seorang sersan mengeluarkan minuman kaleng dari tas lorengnya. Pembicaraan kami berputar tentang pengalaman mereka di Hawaii sejak merapat lima hari sebelumnya. Salah seorang dari mereka bercerita tentang perjalanannya ke Aloha Tower. Yang lainnya bercerita tentang istri dan harapannya agar segera punya anak.

Selesai berbuka puasa, sebuah van merah tiba. Sang supir, seorang prajurit AL Amerika Serikat berkulit hitam, berseragam putih-putih dan berkacamata, mempersilakan kami naik ke van dan melanjutkan perjalanan yang tertunda ke Dewaruci yang sudah di depan mata. Sepanjang perjalanan menuju Dewaruci, si prajurit AL Amerika Serikat ini terus memainkan hand phone sambil menyetir van.

Di dermaga, kami disambut oleh beberapa taruna AAL. Sebagian dari mereka mengenakan seragam cokelat-cokelat, dan lainnya mengenakan seragam biru-putih. Mereka mempersilakan kami menuliskan nama masing-masing di buku tamu sambil bertanya apa aktifitas kami di Hawaii, sementara kami bertanya apa yang mereka rasakan selama dalam perjalanan membelah samudera.

“Beberapa hari lalu, dari Los Angeles, sempat ada ombak besar. Kami pada mabok,” cerita seorang taruna AAL.

“Oh, masih bisa mabok juga?” tanya seorang teman saya dijawab tawa para taruna.

Saya dan beberapa kawan tak buru-buru menyeberang ke atas geladak. Kami memilih untuk memuaskan mata lebih dahulu memandang Dewaruci dari dermaga, mengamati tonggak di ujung kapal, dan patung Bima yang seakan menjadi penuntun Dewaruci ketika membelah samudera, lalu bergerak mengamati buritan kapal, dan memandang puncak ketiga pahlawan Pandawa. Sebuah lampu sorot berwatt tinggi menyala nyalang, membuat lingkungan di sekitar Dewaruci menjadi cukup terang. Di atas sana, sebuah bendera bajak laut, tengkorak dan tulang yang bersilang putih dengan dasar hitam pekat, setengah berkibar ditiup angin Pearl Harbor yang sedang tak begitu kencang.

Mengibarkan bendera bajak laut menjadi semacam tradisi di kalangan pelaut militer dari negara manapun. Ada harapan, agar spirit para bajak laut yang tak kenal takut menghadapi amukan ombak dan badai samudera sehebat apapun menulari mereka.

Untuk barquentine atau kapal layar bertiang tinggi sekelasnya, Dewaruci memang terbilang cukup tua. Bisa jadi, Dewaruci yang punya bobot mati 847 ton dan berkecepatan maksimal 10,5 knot dengan mesin dan 9 knot dengan layar ini adalah barquentine paling tua yang masih berani menantang keganasan samudera.

Tubuhnya mulai dirakit pada tahun 1932 di galangan H.C. Stolcken Sohn, Hamburg, Jerman. Perang Dunia Kedua yang berkecamuk beberapa tahun kemudian, meluluhlantakkan Eropa, Asia dan belahan utara Afrika, memaksa Jerman menghentikan pembangunan janin Dewaruci.

Usai perang, pemerintah Indonesia memesan kapal setengah jadi itu pada pemerintah Jerman. Pembangunannya kembali dimulai tahun 1952, dan selesai setahun kemudian. Di bulan Januari 1953, kapal baru stok lama ini diluncurkan dengan menggunakan bendera Indonesia. Pelayaran dari Hamburg menuju Surabaya dipimpin oleh seorang kapten berwarganegara Jerman, Rosenoow, yang kemudian mengubah kewarganegaraannya menjadi WNI.

Setelah beberapa bulan dipermak di Surabaya, diberi tambahan ornamental yang memperlihatkan ciri keindonesiaan, seperti menutup pangkal tiang dan ruang kemudi dengan berbagai ukiran Jepara dan Papua, di bulan Oktober 1953 Dewaruci resmi bergabung dengan TNI Angkatan Laut sebagai kapal latih yang juga bertugas menjalankan misi persahabatan ke berbagai negara. Nama Dewaruci, simbol kebenaran dan keberanian, pun disematkan di pundaknya.

Sejak bergabung dengan TNI AL, sudah puluhan kali Dewaruci mengarungi samudera luas. Muhibah KJK 2007 ini yang dimulai bulan Mei lalu adalah perjalan ke-36 Dewaruci. Kali ini mereka mengikuti ASTA Tall Ship Challenge 2007� bulan Juni lalu di New Port, Rhode Island, di pantai timur Amerika Serikat. Dalam Muhibah ini, kapal yang dipimpin oleh Letkol Laut (P) Soetarmono itu menyinggahi 17 kota di empat negara dengan jarak tempuh sejauh 29.992 mil laut dalam 241 hari.

Dari Surabaya tanggal 10 Maret lalu, Dewaruci bergerak menuju Jayapura, lalu singgah di pelabuhan Kwajelin, Republik Marshall sebelum melanjutkan perjalanan membelah Samudera Pasifik yang hening. Mereka singgah lebih dahulu di Honolulu, sebelum melanjutkan perjalanan ke pesisir barat benua Amerika. Pelabuhan pertama yang disinggahi di mainland Amerika Serikat adalah San Diego. Dari sana Dewaruci berbelok ke selatan menuju pelabuhan Manzanillo di Meksiko, dan memasuki Terusan Panama

Di ujung timur Terusan Panama, Dewaruci kembali berbelok ke utara menuju Miami, dan berturut-turut menyinggahi New Port, Philadelpia, Norfolk, Charleston. Dalam perjalan pulang mereka balik kanan ke arah selatan menyinggahi Florida, lalu pelabuhan Colon milik Panama, kembali memasuki Terusan Panama, dan singgah di pelabuhan Acapulco di Meksiko. Dari sana, Dewaruci bergerak menuju Los Angeles, pelabuhan terakhir Amerika Serikat di mainland yang mereka singgahi dalam Muhibah KJK 2007 ini.

Dari Los Angeles, Dewaruci kembali menuju Honolulu, sebelum melanjutkan perjalanan pulang melewati Kwajelin, Sorong, dan Kendari. Dewaruci diharap tiba kembali di Surabaya bulan November nanti.

Mengenakan seragam putih-putih, Letkol Soetarmono menyambut kami dengan senyum mengembang. Lehernya telah dikalungi lei dari semacam biji-bijian putih bening. Soetarmono terbilang pelaut unggul di kelasnya. Ia pernah memimpin pelayaran muhibah ke 19 negara Asia, Afrika dan Eropa di tahun 2005, dilanjutkan dengan kunjungan ke sembilan negara Asia di tahun 2006. Tahun depan, bila tak ada aral melintang, ia akan kembali memimpin pelayaran Dewaruci ke Eropa.

Geladak Dewaruci yang ditutupi tenda putih dan diterangi lampu beribu watt itu pun mulai dipenuhi para undangan. Cemilan dan buah dijejer di sebelah kanan pintu masuk. Agak ke belakang sedikit ada nasi goreng dan baso. Lebih ke belakang lagi, mendekati ruang kemudi di buritan, disediakan minuman, mulai dari air mineral, soft drink sampai bir dan anggur merah.

Tamu-tamu mulai berdatangan. Termasuk Komandan Naval Surface Group Middle Pacific, Rear Adm. Timothy Alexander. Hampir semua perwira AL Amerika Serikat yang datang membawa pasangan mereka. Beberapa malah membawa anak-anak mereka.

Geladak telah disulap menjadi aula pertemuan yang meriah. Bendera Indonesia dan Amerika Serikat digantungkan berjejer sebagai latar panggung. Seorang pemain organ dan penggebuk drum, seorang basis dan seorang gitaris sudah siap di tempat masing-masing.

Setelah Tim Alexander mengucapkan selamat datang, dibalas ucapan terima kasih dari Soetarmono, acara dilanjutkan dengan pertunjukkan beberapa tarian tradisional yang dibawakan taruna AAL. Tarian pertama dari Papua, disusul Serampang 12.

Lalu, atraksi gendang dari Jawa Barat dan sebuah tarian duduk dari Sumatera. Setelah Reog Ponorogo yang digelar di atas dermaga, acara malam itu ditutup dengan Poco-poco yang diiringi tembang lawas made in Amerika. Saya tak paham tarian Poco-poco, dan hanya menyaksikannya dari kejauhan sambil ngobrol dengan beberapa perwira pertama Dewaruci. Tapi menurut teman yang melibatkan diri pada tarian massal yang populer beberapa tahun terakhir ini, mereka menarikan sepuluh gerakan.

Seorang perwira senior membawa saya ke ruang tamu kapal. Kami menuruni tangga di bagian belakang ruang kemudi yang dinding-dindingnya dipenuhi berbagai plakat dari berbagai negara. Ruang tamu itu cukup rapi. Kursi-kursi ditempatkan berjejer di sebelah lemari hias setinggi pinggang. Berbagai plakat, miniatur kapal layar dan piala diletakkan di atas lemari itu. Juga album berisi foto-foto perjalanan Dewaruci.

Sang perwira senior ini hendak memperlihatkan kepada saya foto-foto shooting fim Anna and the King yang dibintangi Jodi Foster dan Chow Yun-Fat tahun 1999 lalu. Kapal Dewaruci dan awaknya juga dilibatkan dalam film itu. Tetapi setelah mencari kemana-mana dia tak juga menemukan foto-foto itu.

Dari ruang tamu, saya dan seorang teman kembali ngobrol dengan beberapa perwira tentang banyak hal yang dicampurbaurkan. Mulai dari perjalanan mereka yang luar biasa, riwayat KRI Dewaruci, juga konsep laut Nusantara. Kami pun sempat mendiskusikan pertanyaan apakah lebih bagus membangun museum atau membangun mall, bagaimana menciptakan ruang publik, juga cara terhormat menjalin hubungan luar negeri dengan beberapa negara sahabat.

Pembicaran semakin melebar, ketika kami tersadar bahwa kebanyakan tamu sudah meninggalkan Dewaruci. Karena tak mau ketinggalan van merah yang telah menunggu saya pun pamit meninggalkan Dewaruci dan tiga pahlawan Pandawa yang terus tegak menatap malam. (Teguh Santosa)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: