Skip to content

Bertemu Amina Wadud Muhsin

September 28, 2007

KARENA semakin tidak sabarnya para fans untuk mendengar cerita menarikku bertemu, berdiskusi, foto bareng, tukar-tukaran email address, makan bareng and tentu guyon di rest room dengan Amina Wadud, makanya sekarang ditengah tugasku yang semakin mencekik, aku sempatkan untuk menulis di blog *heleh guaya*Amina Wadud pernah menghebohkan dunia dengan aksinya sebagai “Lady-Imam” dalam sholat Jumat sekitar dua tahun lalu di Amerika Serikat. Aku mengenal Amina Wadud sejak aku kuliah di tingkat awal di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta lewat bukunya Quran and Women: Re-Reading The Sacred Text from A Women’s Perspective. Bahkan buku ini seperti menjadi buku wajib bagi mahasiswa jurusan Tafsir Hadis terutama yang fokus pada issu perempuan. Dia mengucapkan shahadat pada waktu kuliah S1 di University of Pennsylvania. Dia belajar bahasa Arab dan Quran di al-Azhar University di Mesir, dan gelar Ph.D nya diraih di University of Michigan. Ketajaman analisisnya menjadi salah satu inspiasiku untuk menggeluti issu-issu perempuan.

Dulu temenku pernah tanya “Kenapa sih milih kuliah di Amerika.” Aku jawab “Salah satunya aku pengen ketemu Amina Wadud Muhsin.” Tentu tidak dapat dibayangkan ketika aku berkesempatan datang di conferensi di University of Massachusett (UMass) di Boston yang salah satu keynote speakernya adalah Amina Wadud Muhsin. Dan karena dia pulalah aku bela-belain melakukan perjalanan sekitar 10 jam dengan pesawat dari Hawaii ke Boston. Tentu enggak usah ditanya lagi bagaimana perasaanku ketika bisa ketemu dia selama tiga hari berturut-turut.

Conference dimulai tanggal 12 September 2007, dan pada sesi pertama keynotenya tiga orang Amina Wadud Muhsin, Lara Debb dan Haideh Moghissi.

Sebenernya aku sudah melihat sosok yang berambut gimbal dengan kerudung kuning sejak aku masuk ruangan di komplek campus center UMass, tapi aku enggak “ngeh” kalau itu Amina Wadud. Baru ketika acara dimulai, aku baru ndoblong “ohhhhhh ini tho Amina Wadud,” gumamku dalam hati. Semula aku duduk di bagian tengah. Tapi ketika Amina Wadud mulai memberikan ceramahnya, aku maju di barisan kursi depan sendiri.

Amina memberi judul pidatonya “Defining Islamic Feminisms:Ethics, Agency and Religiosity.” Amina mengartikan Agency berdasarkan ayat “Inni jailu fi al-ardhi kholifah” jadi Amina mengartikan kholifah sebagai moral agency. Untuk itu every single person punya mandat untuk menjadi moral agency. Agency ini bisa sifatnya individuality dan interconectivity. Perempuan dalam satu saat adalah individual tapi dalam kesempatan yang sama perempuan juga interconec dengan lainnya. Jadi ketika menjadi kholifah, perempuan harus mentreat manusia lain dengan suka rela.

Amina juga tidak mau dikatakan sebagai “feminis.” Karena dalam perspective dia tidak ada namanya “membincang feminis” yang ada adalah “membincang human being.” Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Dr. Azra Zehra dri Pakistan, kalau sebenernya tidak ada istilahnya “women rights” yang ada hanya “Human being rights.” Aku sepakat banget dengan istilah ini, bila kita bilang hak-hak perempuan sepertinya perempuan itu terpisah dari laki-laki dan perempuan bukan manusia. Sejatinya ketika kita berteriak soal hak-hak perempuan, itu bukan hanya hak perempuan tapi HAK MANUSIA.

Ada seorang Muslimah American dengan jilbabernya menyerang presentasi Amina Wadud. Perempuan ini juga banyak menyetir ayat-ayat al-Quran. Sebagai sesama khafidhoh Amina Wadud dan perempuan tersebut saling berdebat. Tentu sulit bertemu karena metode pendekatannya jauh berbeda.

Ketika acara selesai, aku segera mendatangi Amina Wadud untuk berkenalan lebih jauh. Eh tanpa aku duga, aku malah di ajak ke rest room. Kan ceritanya muslimah jilbaber yang berseberangan opini dengan Amina itu tetep ngejar-ngejar Amina. Padahal Amina pengen banget ke rest room. Jadi dia menyanderaku untuk menemaninya ke rest room. Kan kalau aku jadi teman ngobrolnya Amina, Musliamh tersebut tidak bisa mengganggu. Tidak Etik gitu lho kalau nimbrung obrolan orang. Hasilnya aku nemani Amina ke rest room dan ngobrol banyak di rest room plus foto.

Amina bilang pernah ke Indonesia, bahkan dia ingin sekali menghabiskan waktu pensiunnya di Indonesia. Bagi dia Islam di Indonesia itu unik dan lebih progresif dari Islam di Malaysia. Selama tiga hari berturut-turut aku tiap hari ketemu Amina Wadud, dia tipe yang sante, dia akan teriak-teriak manggil aku kalau melihatku dari jauh dan menyapaku dengan bahasa Indonesia “Apa Kabar?” or “Selamat Pagi.” Bahkan kalau kita sedang capek di ruang conference, Amina akan mengajakku untuk ngobrol di ruang samping yang diperuntukkan untuk sholat.

Generally, Amina itu memang orang cerdas, santai dan mau bergaul dengan siapapun, termasuk dengan diriku yang jauhhhhhhhhhh banget secara keilmuan, umur dengan dia. Cuman ada satu hal yang membikin aku heran dari sosok Amina, dia itu enggak suka dipanggil dengan namanya langsung, terutama oleh orang yang lebih muda umurnya, dia minta dipanggil “Dr, AMina/ Prof. Wadud” atau apalah bisa mengekpresikan penghormatan ke orang yang lebih tua. Saat acara diskusi ada seorang mahasiswa muda yang memanggil dia dengan “AMina,” eh Amina bilang ” maybe I am older than your mom, please give me respect with call me Prof. Wadud or Dr. Amina.” SUmpah ini pertama kalinya aku menemui hal seperti ini di US. Biasanya orang US itu nyante poooolll untuk urusan nama. Tapi yachhhhh lagi-lagi itu her choice. (Ninik Wafiroh)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: