Skip to content

Hasrat Nuklir Di Balik Operation Smiling Buddha

Oktober 1, 2007

SANKARAN Krishna tampil sebagai pembicara pada sesi ketiga untuk mata kuliah POLS 600 tentang metode ilmu politik, Selasa malam (4/9). Sejak seminggu sebelumnya kami disarankan membaca dua tulisan Krishna, yakni “The Bomb, Biography and the Indian Middle Class” yang dimuat di jurnal Economic and Political Weekly, 10 Juni 2006, dan “The Social Life of Bomb: India and the Ontology of an ‘Overpopulated’ Society”.

Tulisan kedua ini tengah dipersiapkan sebagai salah satu bab pada buku berjudul “Living with Nuclear Power: Culture, State and Society in India and Pakistan” yang dieditori Itty Abraham dan akan diterbitkan Indiana University Press tahun depan.

Dalam kedua tulisannya, Krishna yang lahir dan besar di India dan bergabung dengan University of Hawaii tahun 1990 itu menyoroti obsesi India menciptakan senjata nuklir.

Pada tulisan pertama, Krishna menjadikan biografi Raja Ramanna, “Years of Pilgrimage”, sebagai pintu masuk ke persoalan yang mengganjal hatinya ini.

Ramanna lahir dan besar di Tumkur tahun 1925. Ia memperoleh gelar doktor fisika nuklir dari London dan dikenal sebagai “bapak bom nuklir India”. Di era 1970-an Ramanna memimpin lembaga riset atom, Bhabha Atomic Research Center (BARC). Ketika ia memimpin lembaga itu, di tahun 1974 untuk pertama kali India melakukan test nuklir dengan nama sandi Operation Smiling Buddha.

Ramanna juga pernah memimpin the Defense Research and Development Organization (DRDO) dan menjadi penasihat menteri pertahanan India. Di forum internasional, karena kecakapannya dan pengetahuannya yang tinggi mengenai teknologi nuklir, penggemar musik klasik yang juga piawai memainkan jari-jarinya di tuts piano ini dipercaya menjadi ketua konferensi badan atom internasional di bawah PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA) tahun 1986.

Membaca otobigrafi Ramanna membawa Krishna tiba pada satu kesimpulan bahwa kelas menengah India sesungguhnya hidup di antara—bukan hidup bersama—kebanyakan orang India. Pada praktiknya, mereka hidup terpisah di dunia sendiri.

“It argues that Indian middle class often sees itself as living amongst, but not living with, the majority of its fellow citizen… The autobiography of Ramanna offers a fascinating contemporary site for the excavation of such intertwined impulses within the habitus of middle class India.”

Perhatian Krishna pada otobiografi itu sudah tersita sejak kalimat pertama. “It was a typical middle class wedding”, tulis Rajamanna, disusul ceritanya tentang kebiasaan-kebiasaan komunitas Hebbar Sri Vaishvana, yang juga dikenal dengan Hebbar Iyengars. Bagi Krishna, bukan tanpa maksud Rajamanna memulai kisah dengan menggambarkan kebiasaan hidup komunitasnya itu.

Pada bagian lain otobiografinya, Rajamanna juga bercerita tentang superioritas dan keunggulan budaya Sanskritic dan membahas kemungkinan hubungan antara budaya itu dengan budaya Slav di timur Eropa yang dianggap agung dan lebih tinggi. Kebanggaan atas kasta dan keturunan tampak jelas dalam otobiografi Rajamanna itu. Bagi Ramanna, seperti kebanyakan kaum elit dan kelas menengah di India, sistem kasta adalah sesuatu yang memegang peranan penting dalam struktur masyarakat India. Menurut Krishna, untuk orang sekaliber Rajamanna yang mendapatkan pendidikan barat dan memperoleh pengakuan dari forum internasional, mengagung-agungkan asal usul keturunan dalam otobiografi bukanlah hal yang biasa. Ini adalah inkonsistensi.

Sulit membayangkan tokoh yang memiliki cara pandang seperti ini—memandang kasta Brahman dan Kshatriya sebagai kelompok masyarakat yang memiliki peran paling penting dalam struktur masyarakat India—dapat berbuat sunguh-sungguh demi kepentingan rakyat banyak, yang sebagian besar berasal dari kasta yang lebih rendah, Vaishya and Shudra.

Maka, tidak heran bila kelas menengah yang “hidup terpencil” di tengah masyarakat India punya cara pandang yang unik terhadap berbagai hal penting yang harus diselesaikan pemerintahan negara itu. Gambaran kumuh yang dihasilkan oleh kemiskinan sekitar 400 juta rakyat India, bagi kelas menengah India bisa jadi adalah sesuatu yang tidak eksis, dan karenanya tidak mendapat tempat dalam sistem kesadaran mereka.

Itu pula sebabnya, dapat dipahami bila program bom nuklir India sama sekali tidak nyambung dengan realita yang berkembang India. Tidak ada penjelasan yang masuk akal di balik keinginan India mencipatakan bom nuklir, atau menjadi anggota Dewan Keamanan, kata Krishna di depan kelas.

Pada tulisan kedua, Krishna mengutip sedikit fakta yang dipaparkan penulis lain, Arundhati Roy, dalam buku “The End of Imagination”. Roy mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kemiskinan adalah realita yang nyata adanya di negara dengan penduduk hampir satu triliun itu. Ketika buku itu ditulis, 1998, India berada pada posisi ke 138 dari 175 negara dalam indeks pembangunan manusia yang dirilis UNDP. Lebih dari 400 juta orang India buta huruf dan hidup dalam kemiskinan absilut. Sementara 600 juta lebih tidak memiliki fasilitas kesehatan yang paling minimalis, dan 200 juta lainnya bahkan tidak dapat mengakses air bersih.

Tetapi entah bagaimana India justru menganggap bahwa senjata nuklir adalah mimpi nasional yang harus segera diwujudkan dengan mengerahkan semua kemampuan yang dimiliki. Mengapa bom nuklir lebih penting daripada ratusan juta orang yang hidup dalam kemiskinan absolut? Mengapa bom nuklir lebih penting dari lapangan pekerjaan atau air minum untuk rakyat?

Krishna lalu masuk pada pembahasannya lewat pendekatan postcolonial. Apa yang dimaksud dengan poskolonial, sebutnya, adalah dampak yang ditinggalkan proses kolonialisasi dalam berbagai aspek, mulai dari sosial, ekonomi, budaya, seni dan pendidikan, dan sebagainya.

Secara psikologis, kaum terjajah cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh penjajah, sebut Krishna. Kaum terjajah selamanya menginginkan hal-hal yang luks dan mewah, yang dimiliki penjajah tetapi tidak bisa mereka peroleh ketika hidup terjajah.

Barang mewah itu, seperti diterangkan Arjun Appudarai dalam “The Social Life of Things: commodities in cultural perspective”, bersifat restriction, complexity in acquisition, semiotic virtuosity, specialized, dan high degree of linkage.

Bagi kelas menengah dan kaum elit India yang pada hakikatnya hidup di dunia sendiri, bukan di India yang ditandai oleh batas teritori dan kultural seperti yang dikenal di buku-buku, bom nuklir adalah barang mewah yang harus dimiliki untuk melengkapi status elit mereka.

Dalam tulisan itu, Krishna juga menyoroti peranan ilmu pengetahuan poskolinial dalam masyarakat politik India. Pada masa kolonial, ilmu pengetahuan modern menjadi faktor utama yang membedakan penjajah dan kaum terjajah. Kemampuan penjajah menguasai ruang dan waktu yang ditandai dengan penemuan rel kereta, telegraph, jembatan beton kokoh yang menghubungi dua sisi sungai lebar, juga dam yang mengatur debit air untuk berbagai keperluan termasuk pembangkit tenaga listrik, juga penggalian arkeologi dan epidemiologi dan imunisasi, membuat masyarakat terjajah semakin tampak terbelakang, dan membuat penjajah menemukan legitimasi atas kekuasaan mereka di dunia yang “baru ditemukan”.

As Gyan Prakash dalam buku “Another Reason: Science and Imagination of Modern India” yang dikutip Krishna, menyebut bahwa ilmu pengetahuan modern memiliki kontradiksi yang akut. Pada satu sisi, ilmu pengetahuan modern mendorong kaum intelektual “masyarakat baru” untuk mengikuti apa yang telah ditemukan oleh dunia Barat yang membawanya. Namun di sisi lain, ia juga mempertahankan perbedaan antara kaum penjajah dan kaum terjajah. Perbedaan yang di era poskolonial terus dipertahankan oleh kelompok elit baru yang malah memperkokoh dinding pembatas antara mereka dengan sebagian besar masyarakat yang sejak jaman kolonial sungguh terjajah.

Itulah yang terjadi pada gagasan mengenai kebutuhan akan bom nuklir di India. Ia adalah kebutuhan kelompok elit dan kelas menengah pada masyarakat poskolonial yang dengan sengaja memisahkan diri mereka dari masyarakat. Mereka inilah kaum yang tidak nyambung, namun berkuasa.

Maka, sulit untuk menyadarkan kelas menengah India bahwa masyarakat lebih membutuhkan akses air bersih, lapangan pekerjaan, dan sebagainya, bukan bom nuklir yang tak ada artinya itu.

Pada bagian akhir kuliahnya, menjelang pukul 20.00 waktu Honolulu, Krishna menyarankan kami untuk membaca beberapa buku yang menurutnya dapat mengantarkan kami lebih jelas pada metodologi poskolonial.

Berikut judul-judul buku yang dituliskannya secara acak di papan tulis berwarna hijau itu.

1. Marcel Mauss, Gift
2. William Chalaupka, Knowing Nukes
3. William Chalaupka, Everybody Knows
4. Dipesh Chakrabarty, Provincializing Europe
5. Michael Focoult, Nietzsche Genealogy History
6. Pierre Bourdeau, Outline of Theory of Practice
7. Karl Marx, Jews Question
8. Ashis Nandy, Intimate Enemy
9. Ashis Nandy, Psychology of Colonialism
10. Jean Boudriallard, The Political Economy of the Sign

(Teguh Santosa)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: